Situs Informasi Tempat Wisata, Sejarah, Dan Seni Budaya Di Kota Cianjur

Sunday, January 21, 2018

Sejarah Kebudayaan Cianjur Kota Santri Yang Sangat Menarik

Sejarah Kota Cianjur 
Tiga era yang lalu adalah waktu bersejarah untuk Cianjur. Berdasar pada sumber histori yang tertulis, mulai sejak th. 1614, daerah Gunung Gede serta Gunung Pangrango berada di bawah Kesultana Mataram. 
Sekitaran tanggal 2 juli 1677 dijelaskan, Raden Wira Tanu putra R. A. Wangsa Goparana Dalam Sagara Herang mengemban pekerjaan untuk menjaga daerah Cimapag. Usaha Wira Tanu untuk menjaga daerah ini, erat hubungannya dengan tekanan Belanda/VOC waktu itu yang menginginkan coba merajut hubungan kerja dengan Sultan Mataram Amangkurat I. Tetapi sikap patriotik Amangkurat I yang tidak ingin bekerja bersama dengan Belanda/VOC menyebabkan ia mesti ikhlas meninggalkan keraton tanggal 2 juli 1677. 

Peristiwa itu berikan makna kalau kemudian Mataram berlepas diri dari lokasi kekuasaannya. Info itu hingga di Cianjur sepuluh hari lalu, yakni tanggal 12 juli 1677. Atas basic tersebut jadi diputuskan kalau hari jadi Cianjur jatuh pada 12 juli 1677 seperti yang tertuang dalam perda No. 27 th. 1982, Lembaran daerah No. 4 th. 1982 seri D tanggal 17 juli 1982 mengenai pemilihan Hari Jadi Cianjur. R. A. Wira Tanu I diputuskan jadi Bupati pertama yang mengayomi tatar Cianjur pada th. 1677-1691 Pada pertengahan era ke-17 ada pertindahan rakyat dari Sagara Herang bersamaan dengan masuknya Raden Djajasansana putra R. A. Wangsa Goparana dari Talaga yang disebut keturunan Suana Talaga yang masuk Islam. Sesaat daerah Talaga pada saat itu masih tetap kuat dampak Hindu. Jadi beliau dari Sagara Herang mulai meneybarkan Islam ke daerah sekelilingnya. Sesaat Cikundul yang pada awalnya yaitu sub nagari beralih jadi Ibu Nagari pemukiman rakyat Djajasasana. Satu tahun lebih sebelumnya th. 1680 daerah itu diberi nama Cianjur (Tsitsanjoer, Tjiandjoer). Sebagian bangunan yang cukup bersejarah di Cianjur diantaranya :

1. Masjid Agung 
Masjid Agung Cianjur ini terdapat di pusat Kota Cianjur yang dibuat pertama kalinya pada th. 1810. Sayangnya masyarakat yang meniti pembangunan Mesjid ini tidak terdaftar dalam histori seperti histori Mesjid-Mesjid Agung di daerah yang lain. Mesjid ini dibuat di atas tanah wakaf punya Ny. Raden Bodedar binti Kangjeng Dalam Sabirudin, yang disebut Bupati Cianjur yang ke-4. Luas Mesjid ini pada awalnya 400 m. Lantas berkembang jadi 2500 m. Dan alami sekian kali perbaikan. Yang paling intensif yaitu mulai sejak th. 1997 hingga th. 2000 yang menelan cost lebih kurang Rp. 10 milyar. Desan moderen serta classic jadi keunikan mesjid ini yang bisa menyimpan sekitaran 4000 jemaah. Disinal umumnya satu diantara kebiasaan orang-orang Cianjur yakni Ngaos dikerjakan. Terlebih saat peringatan hari-hari besar Islam seperti Ramadhan, Nuzulul Quran, Isra Miraj dan lain-lain. Mesjid ini juga akan ramai oleh gelombang lautan manusia yang dengan ketertarikan mendatangi mesjid. 

B. Situs Gunung Padang 
Website Gunung Padang yang terdapat di Kampung Gunung Padang serta Kampung Panggulan, Desa Karyamukti Kecamatan Campaka, Cianjur ini adalah website megalitikum paling besar di Asia Tenggara. Luasnya sekitaran 900 m2 yang mencakup bangunan purbakala dan areal website tersebut lebih kurang 3 hektar. Kehadiran website ini pertama kalinya keluar atas laporan Rapporten van de Oudheid-kundingen Diest (ROD) th. 1914. Yang setelah itu dilaporkan oleh N. J Krom pada th. 1949. Pada th. 1979 aparat berkaitan dalam soal pembinaan serta riset benda cagar alam budaya yakni yang memiliki kebudayaan setempat disusul oleh Ditlinbinjarah serta Pulit Arkenas lakukan peninjauan ke tempat website. Mulai sejak waktu itu usaha riset pada website Gunung Padang mulai dikerjakan dalam sisi arkeologis, historis, geologis serta beda lain. Bentuk bangunan ini mencerminkan kebiasaan budaya megalitikum. Di mana semuanya batu-batu sebagai pondasi dari bangunan itu yaitu batu besar yang biasanya berupa balok maupun persegi panjang yang disebut batu vulkanik masif yang memanglah terdapat banyak di Cianjur.. Bangunannya terbagi dalam lima teras dengan ukuran tidak sama. Batu-batu itu sekalipun belum juga alami tersentuh manusia dalam makna belum juga dibuat/dipahat oleh manusia. 
3. Istana Presiden Cipanas 
Istana Presiden cipanas dibuat pada th. 1740 oleh Van Heuts diatas tanah seluas 25Ha. Istana ini terdapat di bawah kaki Gunung Gede. Kompleks istana ini terdiri atas gedung induk serta tujuh buah paviliun, diperlengkapi dengan fasilitas berolahraga. Luas gedung adalah bangunan panggung seluas 950 m2. Tiap-tiap ruang terisi furniture serta ukiran dari jepara serta koleksi lukisan-lukisan karya pelukis populer, seperti Basuki Abdullah, Sudjojono, serta Lee Man Kong. Sebagian bangunan dinamakan tokoh pewayangan. Sebagian paviliun baru usai pada 1916 serta yang paling baru yaitu th. 1984. Dibagian belakang istana ada kolam air mancur bergaris tengah 27 m. d. Cenderamata Cianjur 

Sebagian cenderamata yang disebut hasil dari kerajinan budaya Cianjur diantaranya : 

a. Lentera Gentur 
Lentera gentur di buat dari kuningan serta bahan kaca berwarna dengan desain yang artistik adalah satu diantara kerajinan yang telah populer, berada di Kecamatan Warungkondang. f. Sanggar BambuKursi serta meja artistik ini di buat dari bambu oleh pengrajin di Kota Cianjur. Kursi bambu ini pas untuk dipasang di ruangan istirahat. Sanggar bambu ini memperoleh penghargaan upakarti th. 1992. 

b. Kerajinan keramik 
Kerajinan keramik berada di Kecamatan Ciranjang pada satu sentra produksi serta satu unit usaha oleh lima orang pengrajin. 

c. Miniatur Kecapi 
Kerajinan miniatur kecapi terbuat dari logam atau kayu yang di buat sesuai sama aslinya. Alat musik ini umum dipakai untuk menemani tembang cianjuran termasuk juga beragam type lagu sunda yang lain.

d. Sangkar Burung 
Satu kerajinan yang bernilai ekonomis produktif berada di Kecamatan Karangtengah. Kerajinan ini sempat memperoleh upakarti th. 1994. 



 Ngaos, Mamaos, Maenpo

a. Ngaos, kebiasaan mengaji dalam orang-orang Cianjur 
Cianjur telah lama di kenal jadi satu diantara kota santri. Serta satu diantara kebiasaan yang begitu menempel dalam diri orang-orang Cianjur yaitu budaya Ngaos. Ngaos yaitu kebiasaan orang-orang yang memberi warna situasi serta nuansa Cianjur dengan orang-orang yang lekat dengan keberagamaan.

Citra jadi orang-orang agamis ini seperti yang sudah dikemukakan terdahulu yaitu jadi langkah dari Djajasasana putra R. A. Goparana yang memeluk agama Islam pada th. 1677 di mana ketika itu beliau dengan ulama serta santri ketika itu gencar menebarkan syariat Islam. Tersebut penyebabnya kenapa Cianjur memperoleh julukan jadi kota gudang kyai serta gudang santri. Pondok-pondok pesantren yang tumbuh serta berkembang di tatar Cianjur sedikit atau banyak sudah berperan dalam perjuangna histori kemerdekaan negeri ini.
 Di sanalah bergolak jiwa semangat berjihad. Banyak pejuang-pejuang memohon restud ari kyai-kyai sebelumnya pergi ke medan pertempuran. Menurut mereka itu, mereka baru terasa lengkap serta yakin diri jika sudah memperoleh restu dari kyai. Sepintas, kebiasaan mengaji di kelompok orang-orang Cianjurini tidak jauh berlainan dengan beberapa daerah beda di Jawa Barat seperti Garut, Tasikmalaya, Banten, Cirebon serta beda sebagainya yang dikenal juga jadi gudangnya santri.

Memanglah pada intinya tak ada ketidaksamaan yang mencolok, sebab Islam sendiri mengajarkan umatnya untuk selalu mengaji serta menghayati dan mengerti Al uran yang disebut jalan hidup yang lurus.

 Begitu halnya kelompok orang-orang Cianjur, walau saat ini tampak ada penurunan dalam melestarikan budaya Ngaos tetaplah akan tidak sempat hilang dalam sanubari orang-orang Cianjur, terutama orang-orang (dalam makna ini pesantren) yang terdapat di beberapa daerah pinggir Cianjur sebab demikian kuatnya mereka memegang kebiasaan ini.

 Biasanya kebiasaan Ngaos di Cianjur memanglah lebih di kenal dalam kegiantan kepesantrenan. Sepeti Ngaos nyorangan, Ngaos bandungan, Ngaos tarabasan. Yang kesemuanya mempunyai makna yang berlainan walau demikian dengan maksud yang sama. 

Umpamanya ngaos nyorangan yaitu bentuk mengaji dengan mandiri yang dikerjakan oleh seseorang santri dalam memahai isi kandungan Al Quran.


 Ngaos bandungan yaitu satu bentuk mengaji di mana waktu santri seang membaca isi Al quran dengan didampingi seseorang ustadz yang setiap saat membenarkan bacaan santri jika sang santri salah dalam bacaannya dan berikan tafsiran jika memanglah dibutuhkan.

 ngaos tarabasan yaitu langkah membaca Al Quran dengan bersama dengan maksud untuk bersama menghapal isi Al Quran. 

b. Mamaos (Tembang Sunda Cianjuran)

Mamaos yaitu seni budaya yang melukiskan kehalusan budi serta rasa jadi perekat persaudaraan serta kekeluargaan dalam tata pergaulan hidup.

 Mamaos dapatlah disimpulkan dengan membaca, yakni membaca (merenungkan) semua ciptaan Tuhan, membaca (merenungkan) jalinan pada manusia dengan manusia, manusia dengan alam, pada mahluk dengan mahluk ciptaan Allah Yang Maha Pencipta Seni mamaos tembang sunda Cianjuran lahir hasil cipta, rasa serta karsa Bupati Cianjur R. Aria Adipati kusumahningrat yang di kenal dengan sebutan Dalam Pancaniti.

Ia jadi pupuhu (pemimpin) tatar Cianjur sekitaran th. 1834-1862. Dengan kehalusan rasa seni Dalam Pancaniti, kesenian itu jadi ide lahirnya satu karya seni yang saat ini dimaksud Seni Mamaos Tembang Sunda Cianjuran. Dalam step penyempurnaan hasil ciptaannya Dalam Pancaniti dibantu oleh seniman kabupaten yakni : Rd. Natawiredja, Ayah Aem serta Maing Buleng. Beberapa seniman itu memperoleh izin dari Dalam Pancaniti untuk menebarkan lagu-lagu hasil ciptaan Dalam Pancaniti. 

Syair Mamos yang pertama kalinya di ciptakan oleh Dalam Pancaniti berjudul Monitor Putri yang berisi : Sada gugur di kapitu Sada gelap ngadadasaranSada laut lilintungan 
Kamana ngaitkeun ngincirKa kaler katojo bulanKamana ngaitkeun fikirSugan paler kasabulan Sesudah Dalam Pancaniti meninggal dunia th. 1816, Bupati Cianjur dilanjutkan oleh anaknya yakni R. A. A. Prawiradiredja II (1816-1910), seni Mamaos ini mulai mencapat step penyempurnaan dengan disertai dentingan kecapi serta nada suling. 

Saat ini Tembang Sunda Cianjuran telah populer bukanlah saja di Nusantara juga akan tetapihingga pelosok mancanegara. Untuk melestarikan kesenian tradisionil,

diselenggarakan pasanggiri tembang sunda cianjuran, baik lokal ataupun regional/nasional (Jawa Barat, Banten serta DKI Jakarta). Seni Mamaos ini terbagi dalam alat kecapi indung (kecapi besar serta kecapi rincik/kecapi kecil) dan satu suling yang menemani penembang atau juru. Biasanya syair-syair Mamaos ini semakin banyak mengungkap puji-pujian juga akan kebesaran Tuhan dengan semua hasil ciptaanNya. 

c. Maenpo (seni beladiri ciri khas Cianjur) 
Mulai sejak dahulu Cianjur di kenal dengan seni beladiri Pencak Silat yang hasilkan sebagian aliran populer, diantaranya aliran Cikalong, Cimande serta Sabandar.

 Yang hingga saat ini masih tetap dipelajari serta disukai pencinta pencak silat oleh beragam kelompok baik di beberapa daerah lokal ataupun mancanegara. Maenpo atau juga dikenal dengan arti pencak silat yaitu satu kesenian beladiri yang melukiskan ketrampilan serta ketangguhan. 

Maenpo sendiri dengan bhs terbagi dalam dua kata yakni maen serta po. Maen bermakna lakukan suatu hal sesaat po datang dari arti China untuk memukul. Jadi maenpo berarti lakukan suatu hal dengan memukul. Pecipta serta penebar seni maenpo ini yaitu R. Djadjaperbata atau di kenal dengan nama R. H. Ibrahim. Aliran ini memiliki ciri permainan rasa yakni sensitivitas atau kepekaan yang dapat membaca semua gerak lawan saat anggota tubuh sama-sama bersentuhan

. Dalam maenpo di kenal arti liliwatan (pengideraan) serta Peupeuhan (pukulan). Seni peupeuhan yang disebut aliran ciri khas ciptaan R. H. Ibrahim, memercayakan kecepatan gerak serta tenaga dalam yang mengagumkan. 

Mengenai R. H. Ibrahim menunggal pada th. 1906 serta dimakamkan di pemakaman keluarga Dalam Cikundul, Cikalong Kulon Cianjur. Ketika yang sama keluar satu aliran yang memercayakan tenaga pengideraan atau liliwatan yang ditampilkan oleh Muhammad kosim dari Sabandar Karangtengah Cianjur yang lalu beliau di kenal dengan nama Ibu Sabandar.

 Aliran berikut yang masa datang di kenal dengan sebutan Aliran Sabandar yang memercayakan kemahiran dalam keluarkan tenaga penginderaan.

Berikut Penjelasan tentang sejarah kota cianjur, semoga kota cianjur menjadi kota yang lebih maju lagi dimasa yang akan datang. menjadi kota yang lebih agamis lagi, dan semoga artikel yamg saya tulis bisa bermanfaat untuk rekan rekan semua. terima kasih telah berkunjung.

Best Regard,
Muhammad Dodi Septiana

No comments:

Post a Comment